ARTIKEL

Identitas, Ruang dan Anak Muda

Nuraini Juliastuti

KUNCI Cultural Studies Centre, Yogyakarta

Tulisan ini adalah pengantar dalam pameran “No One Knows What It’s Like to be Me”

Bagaimanakah cara mendefinisikan identitas? Ini bukan pertanyaan yang sederhana, dan sama sekali tidak gampang. Dan ini adalah usaha Insomnium untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Decky berpendapat bahwa pakaian atau pilihan fesyen yang dipilih oleh seseorang merupakan penentu identitas diri. Manusia yang bertelanjang dada atau tidak mengenakan pakaian sama sekali diasumsikan bersih, kosong, seperti kain putih. Tidak ada makna yang bisa dilekatkan padanya. Baru ketika ada sepasang pakaian dikenakan, identitas itu menjadi ada. Pada karya Decky, kita bisa melihat bagaimana seseorang digambarkan dalam dua posisi yang berbeda dalam satu bingkai: seseorang dengan bertelanjang dada, dan seseorang yang sama dalam seperangkat fesyen yang menjadi pilihannya.

Heri dan Nakula memilih mendokumentasikan keseluruhan isi kamar dan tas untuk menunjukkan identitas diri, sementara Seto berselancar dan berkunjung ke banyak Friendster untuk mencari tahu bagaimana anak muda menggambarkan dan mengekspresikan kediriannya.

Dan meskipun menunjukkan penampakan visual yang berbeda, Sadewo sebenarnya masih bersumber dari daratan gagasan ide yang sama dengan Decky, Nakula, Heri dan Seto. Gagasan yang menyatakan bahwa identitas akan direfleksikan pada penampilan karakter atau ruang yang dimiliki oleh seseorang. Jika Decky memilih fesyen, Nakula memilih sebuah tas, Hari memilih sebuah kamar, dan Seto memilih Friendster, maka Sadewo memilih sebuah cermin dan kamera sebagai sarana untuk menunjukkan identitas dirinya. Aku adalah aku seperti yang tampak didepanku, begitu kira-kira.

Apakah proyek visual Insomnium ini sudah benar-benar menunjukkan gambaran identitas anak muda Indonesia jaman sekarang?

Pada satu hal, sebuah kamar, sebuah tas, sebuah ruang maya bernama Friendster, atau seperangkat fesyen memang bisa dipakai untuk menunjukkan identitas seseorang. Tapi satu refleksi kritis yang perlu diajukan disini adalah: apakah berarti semua identitas seseorang sudah dibukakan kepada kita semua yang melihat foto-foto ini, apakah setiap orang hanya melihat satu identitas saja, apakah seseorang hanya memiliki satu identitas dari waktu; terdapat beberapa teori tentang identitas yang menarik, tetapi yang menurut saya menarik adalah gagasan “identitas sebagai project” yang terus menerus dikerjakan oleh seseorang, artinya identitas adalah sesuatu yang terus menerus pergeseran dan perubahan, serta gagasan bahwa dalam satu diri individu terdapat ciri-ciri identitas yang berbeda-beda, jadi seorang individu tidak hanya ada satu jenis identitas, tapi suatu poli identitas, identitas yang jamak, tidak hanya hidup bersama-sama, tetapi juga saling bertentangan, dan terbentuk dari berbagai banyak hal (Barker, Hall, Giddens).

Dan project visual Insomnium ini bagi saya hanya menunjukkan satu potongan saja dari keseluruhan identitas yang menyusun kedirian seorang individu. Satu potongan gambaran identitas dari sebuah ruang milik anak muda. Gambaran yang bersifat permukaan; karena untuk mengetahui identitas ras, kelas, politik, seksualitas, masih diperlukan usaha-usaha lain yang lebih jauh lagi.

KESAMAAN. SIMILARITAS

Dari project visual yang dilakukan oleh Heri dan Nakula, muncul kesan kesamaan yang kuat dari orang-orang yang menjadi publik “riset visual” mereka.

Anissa, Arifa, Astri, Muhsan, Nanda, Pipit, Valen: nama-nama orang menjadi subjek visual Heri, bagi saya berasal dari kelas sosial yang sama. Mereka sama-sama anak muda, sama-sama menempuh pendidikan tinggi- dan artinya mereka mempunyai kelas sosial dan budaya yang sama, mungkin juga sama-sama tinggal disebuah kamar pondokan/ kos; sehingga roomscape atau suasana keruangan yang timbul juga sama. Sebuah kamar yang menjadi pusat ruang gerak para individu penghuninya. Ruang belajar (ada buku, rak buku, komputer, memo-memo tertempel di papan busa), ruang tidur (bantal, guling,  selimut, kasur) ruang tempat makan (gelas, piring, kantong makanan kering, toples makanan, botol minuman), ruang tempat menhibur diri (televisi, mini compo, tumpukan koleksi cd dvd, play stastion), ruang tempat penyimpanan harta pribadi (pakaian, buku, aneka boneka dan benda koleksi lain, foto-foto), dan kadang juga dipakai sebagai tempat menunjukkan prestasi atau pencapaian pribadi (foto wisuda, piagam).

Tapi bagaimana dengan anak muda yang tidak punya kamar sendiri; atau anak muda yang tinggal bersama keluarga dalam sebuah rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan saja (satu ruangan yang dibagi dengan bapak, ibu, kakak, adik dsb.), atau katakanlah orang yang tidak punya rumah dan tidur di jalan? Mungkin kita akan menemukan pengalaman keruangan dan ekspresi identittas yang berbeda. Pada pagi dan siang hari, mereka yang tidur di jalan mungkin akan melewatkan waktu dengan bekerja di jalan (sebagai pengemis atau pengamen), dan pada malam hari mereka akan pergi ke satu titik yang sudah ditentukan (depan toko atau salah satu stan warung pasar), kemudian mulai menata calon tempat tidur itu, merapikan buntelan / barang bawaan, dan tidur. Atau coba lihat para bapak penarik becak yang punya rumah di dlingo (Bantul) atau kecamatan-kecamatan kecil lain di kulon Progo, yang sehari-harinya harus bekerja di jogja mencari penghasilan sebagai tukang becak-tetapi tidak mempunyai saudara/sahabat di kota ini, tempat mereka mungkin bisa menumpang tidur, dan karenanya harus tidur di becak. Becak itu adalah sekaligus alat untuk mencari kerja dan rumah dan tempat tidur di malam hari.

Begitu juga dengan proyek nakulo yang berusaha mencari hubungan antara tas dan seseorang yang memilikinya. Sama seperti kamar, asumsinya adalah, tas dan segenap isinya adalah refleksi dari identitas pemakainya. Nakula mempraktekkan asumsi ini kepada publik yang datang pada acara pameran Insomnium. Sebuah praktek interaktif yang menarik, tapi sekaligus problematis karena publik pameran seni rupa di indonesia ini juga sekaligus publik yang bisa dikatakan berasal dari lingkaran yang sama; mahasiswa sekolah seni, seniman, intelektual sekaligus pecinta seni, pemilik ruang alternatif dan dengan demikian juga para aktivis/pekerja kebudayaan. Dan maka kita kembali ditunjukkan dengan sesuatu yang seragam: media-media alternatif, alat tulis, kamera foto, kamera video, buku, handphone dsb. Memang ada beberapa item benda yang sangat spesifik seperti alat mandi, kosmetik, atau kondom; tetapi secara keseluruhan semua jelas menunjukkan benda-benda para manusia yang sangat aktif dan selalu bergerak (mobile) mempunyai gaya fesyen yang sama dan bekerja di lingkungan ide-ide yang kurang lebih sama.

SENIMAN DAN PERISET

Yang menarik untuk dicermati dari pameran ini adalah hasrat dari Decky, Hery, Nakulo, Sadewo dan Seto untuk bergerak menempati posisi sebagi periset atau peneliti. Material Visual yang dipakai sebagai medium untuk mendekati suatu persoalan. Coba lihat metode-metode yang dilakukan hery, nakula dan seto: terdapat langkah penelusuran ruang-ruang anak muda, observasi, menentukan cara/strategi untuk menampilkan identitas anak muda, wawancara, pengumpulan materi dan pendokumentasian (menguduh foto-foto dari friendster seperti dilakukan Seto atau memotret detil-detil kamar dan tas seseorang), dan mempresentasikan kepada publik secara visual.

Yang dipertaruhkan disini adalah bukan lagi unsur ketrampilan, kepiawaian, craftsmanship, melainkan kekuatan konsep yang menjadi latar belakang suatu karya. Sekaligus membuka diskusi akan satu perdebatan klasik tentang kelahiran karya yang bisa dianggap seni dan bukan seni, dari seseorang yang bisa dikatakan seniman dan bukan seniman. Karena dengan mengacu pada kekuatan konsep yang dianggap lebih penting, maka faktor siapa yang turun tangan langsung untuk membuat karya tidak lagi dianggap sebagai persoalan utama.

Leave a comment

Filed under artikel

Presentasi Scannography oleh Angki Purbandono

Adalah sebuah proses merekam dengan menggunakan alat scanner. Metode ini saya gunakan untuk mengembangkan eksperimen fotografi dari proses kamar gelap klasik yaitu Photogram, metode ini pernah dipopulerkan oleh
seniman Amerika pada tahun 1930an yaitu Man Ray yang tekniknya dia namai dengan mengambil namanya sendiri yaitu Rayographs.

Proses Photogram adalah meletakan sebuah benda di atas kertas foto yang peka terhadap cahaya. Benda tersebut kemudian disinari oleh cahaya beberapa detik maka kertas foto tersebut akan menghasilkan bayangan negatif pada permukaannya setelah proses pengembangan.
Perlakuan menempelkan benda tersebut yang kemudian saya kembangkan dengan meletakannya di atas scanner. Kertas foto bertransformasi menjadi kertas digital. Begitu pula dengan penyinarannya yang berotasi 180° -yang semula penyinarannya dari atas kemudian berubah dari bawah.

Scanography mempunyai daya tarik atas proses kerjanya yang sangat berlawanan dengan proses kerja Photogram yang harus berada pada sebuah kamar gelap.
Scanography akan menghasilkan sebuah ilusi 3 demensi yang dihasilkan karena kerapatan sensor rekamnya dengan benda yang tepat diatasnya dibantu dengan cahaya buatan untuk bisa menangkap refleksi karakter bendanya dengan lebih detail

Pekerjaan yang paling berat adalah membentuk instalasinya yang akan diletakkan di atas scanner. Kekekuatan instalasinya tersebut yang menurut saya akan jadi kunci penting untuk menjelaskan apa yang memang pantas diletakan di atas alat scanner tersebut.

Leave a comment

Filed under aktifitas

About

Insomnium merupakan forum independent dalam wilayah khusus riset & konservasi, serta workshop pengembangan fotografi untuk pelajar/ mahasiswa sekaligus dapat berafiliasi pada wilayah Visual Art secara umum. Diskusi-diskusi dan presentasi hasil riset menjadi arah baru untuk melihat fotografi yang lebih dinamis dalam menyikapi percepatan teknologi. Dimasa mendatang Insomnium dipersiapkan sebagai lembaga fotografi yang konsen terhadap perkembangan fotografi di wilayah Malang dan sekitarnya.

Didirikan : Malang, 13 Maret 2003

Dimotori beberapa mahasiswa fotografi yang ketika itu mencitakan fotografi sebagai pilihan ekspresi dan media menyampaikan sosial kritik. Sharing dan diskusi yang intens memotivasi kesepakatan untuk menyikapi perkembangan fotografi secara edukatif.

Alamat : Perumahan Graha Sengkaling Kav.29 Dau Malang 65151

Contact Person: Dq (+62. 81555711011), anto (+62.81567747798)

email: wonginsom@yahoo.com

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

INSOMNIUM

Insomnium is an independent forum in the region-specific research & conservation, and development of photographyworkshops for students at a time generally can be affiliated in the Visual Art. Discussions and presentation of research results into a new direction to see a more dynamic photography in the acceleration of technology. Insomnium prepared in the future as the institution of photography, consent development of photography in the area of Malang, and surrounding areas.

Established: Malang, 13 March 2003

initiated by some student photography when it expects the photography as media choices and the expression of social criticism. Sharing of intense discussion and agreement to motivate the development of photography is instructive.

Address: Perumahan Graha Sengkaling Kav.29 Dau Malang – East Java INDONESIA 65151

Contact: Dq (+62. 81555711011), anto (+62.81567747798)

Email: wonginsom@yahoo.com

Leave a comment

Filed under About

ARt WoRK: Tribute To Man Ray

Hery Poer, Acrilic on canvas, but I still remember you, 80x120cm, 2010

Elizabeth Ida, ………….., print on Polinski, 60×60 cm, 2009

Ariyuan, Twin, Print on paper,……,2009

Arif Harimurti,…………, kloroprint,…..2010

Hafizd,………..,lumens,…..2010

Nakulo,…….,fotogram,…..,2010

Dimas,……,print on paper, 2010

Bahtiar Dwi Susanto, think area(tribute to man ray series), print on canvas, 40x40cm, 2009

Decky Yulian, Wild-hand (series), print on sintetic, 40x40cm, 2010

1 Comment

Filed under Art Work

Menutup Tahun 2010

Pameran Tribute to Man Ray #3 di galeri Raos, workshop Lumens, workshop Fotogram mengakiri kegiatan ditahun 2010. Ada banyak yang kami dapatkan dalam perjalanan proses karya; kritik membangun; masukan-masukan dan gagasan untuk kemudian menjadi bekal kerja di tahun 2011.

Adalah menjadi menarik ketika semua kegiatan yang berjalan ditahun 2010 adalah kesertamertaan dari semua individu insomnium, sejak Kami kehilangan ruang berkreasi, bereksperiman, dan berkumpul untuk berbagi banyak hal dalam pengetahuan fotografi, kehidupan, dan seni peradaban dunia.

Berusaha kembali melihat kedepan, tentang impian homesweethome Kami menata lagi bahwa kebutuhan ruang merupakan keharusan dalam proses berkarya dan mengembangkan kreatifitas.

Program residensi seni, art exchange, kolaborasi seni, public art project, dan rancangan lainnya akan dikedepankan sehingga Kami juga mengundang berbagai pihak terutama yang berdomisili di Batu, Malang, Surabaya, dan sekitarnya untuk sama-sama membangun gagasan keruangan di regional.

Ini menjadi penting tentang pertanyaan keberadaan ruang dan karya…

Semoga

Selamat menatap tahun 2011 sebagai rangkaian perjalanan

Leave a comment

Filed under aktifitas, artikel